Sabtu, 23 Maret 2013

PERENCANAAN SALURAN IRIGASI



Lahan pertanian adalah suatu lahan yang dipakai untuk menanam berbagai macam tanaman pokok seperti : padi, palawija, dan lain-lain. Kebutuhan yang semakin besar akan makanan seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk yang semakin berkembang, melampaui jumlah ketersediaan jumlah makanan yang bertambah secara aritmatikal. Hal ini membutuhkan suatu penanganan yang serius. Penanganan yang dimaksud bisa berwujud program-program ekstensifikasi maupun intensifikasi pertanian. Intensifikasi pertanian yang salah satunya adalah pengairan/irigasi menjadi mutlak untuk mendapatkan perhatian secara sungguh-sunggguh.
Untuk pengembangan suatu daerah menjadi daerah pertanian irigasi diperlukan sebagai berikut :
1.             Peta topografi daerah.
2.           Jumlah air yang dapat dimanfaatkan berdasarkan debit sumber air.
3.           Keadaan air terutama menyangkut kualitasnya.
4.            Keadaan tanah daerah pengairan untuk memperkirakan banyaknya air “Water Avability” dan keseimbangan air “Water Balance”.
5.            Kebutuhan air pada areal irigasi (water requirement) sesuai dengan jenis tanaman, dan pada perencanaan ini didasarkan kebutuhan air pada tanaman padi.
6.           Data klimatologi.
7.            Data-data lain yang berhubungan dengan pelaksanaan rencana pembangunan daerah menjadi daerah irigasi.

A.    MENENTUKAN LOKASI BENDUNG

Bendung yang merupakan bangunan penyadap, dibangun dengan menentukan faktor-faktor sebagai berikut :
1.        Tinggi tempat diusahakan agar daerah yang dapat diairi seluas mungkin sehingga lokasi bendung dipilih daerah yang cukup tinggi.
2.        Debit air, jika sungai yang dibendung merupakan pertemuan 2 sungai atau lebih maka bendung diletakkan di sebelah hilir titik pertemuan untuk memperoleh debit yang lebih besar.
3.        Kandungan Lumpur, banyaknya Lumpur mempersulit pemeliharaan sehingga lokasi bendung dipilih daerah yang sungainya belum banyak mengalami pengotoran.
4.        Terjadinya tanah-tanah tandus, dengan dibendungnya aliran sungai debit disebelah hilir akan berkurang, sehingga memungkinkan daerah sebelumnya yang terendam air akan menjadi kering.
5.        Tanah longsor, umur dari bendung ditentukan oleh pemeliharaan dan keadaan lingkungannya maka pembangunan bendung ditanah yang mudah longsor dapat mempengaruhi kekuatan bendung.

B.      SALURAN PRIMER

Saluran primer atau saluran induk dibuat dengan arah garis trache dan dimulai dari bangunan penyadap dan bagian awal dibuat saluran penangkap pasir/lumpur, kemudian bangunan penguras berlubang dengan bangunan pengambilan, dari bangunan penguras dibuat saluran penguras yang hampir sejajar dengan sungai untuk memudahkan pengurasan lumpur. Dalam pembuatan saluran primer hal-hal yang perlu diperhatikan adalah:
1.        Panjangnya, diusahakan agar panjang saluran tidak berlebihan karena harus berkelok-kelok mengikuti garis trache.
2.        Saluran primer kemungkinan melewati jurang-jurang atau memotong aliran sungai, sehingga perlu dipertimbangkan adanya banyak saluran yang harus dibangun.
3.        Untuk mengurangi masuknya air hujan dan longsornya tanah ke dalam saluran maka pada bagian tepi sungai dibuat saluran penampang/penahan (berm).
4.        Dimensi saluran ditentukan berdasarkan banyaknya air yang dibutuhkan areal irigasi dengan memperhatikan faktor kehilangan air, baik di petak sawah maupun disepanjang saluran.

C.    SALURAN SEKUNDER

Saluran sekunder dibuat menyilang tegak lurus garis trache dan diletakkan pada punggung topografi, hal-hal yang perlu diperhatikan adalah :
1.        Saluran sekunder merupakan batas petak tersier sehingga penentuan bentuk persegi panjang, memanjang ke arah aliran dengan perbandingan 3/2.
2.        Menghindari perpotongan aliran sekunder dengan jalan raya, jalan kereta api, desa dan sebagainya.  Jika tidak mungkin potongan dibuat tegak lurus.
3.        Bangunan pembagi dan pelengkap disatukan untuk memudahkan operasinya dan penghematan.
4.        Perbedaan tinggi tempat yang besar (kemiringan tanah) memerlukan banyak terjunan yang akan memperbesar biaya.

D.    TAMPANG SALURAN

1.        Tampang Memanjang Saluran
Pada saluran primer maupun sekunder dibuat tampang memanjang untuk mengetahui :
a.       Elevasi muka air asli.
b.      Elevasi dasar saluran.
c.       Panjang saluran yang sesuai dengan panjang daerah irigasi.
d.      Elevasi muka air saluran sesuai dengan bentuk tampang saluran.
e.       Tinggi timbunan/galian yang maksimum.
f.       Tinggi muka air minimum sebagai pengontrol.
g.      Jumlah bangunan terjunan yang diperlukan diperhitungkan berdasarkan tinggi hilang oleh bangunan terjunan sebagai berikut :
1)     Selisih tinggi karena kemiringan saluran.
2)      Tinggi yang hilang pada bangunan pembagi.
3)      Tinggi yang hilang pada alat ukur.
4)      Selisih tinggi.
5)      Bangunan pelengkap.
h.      Tinggi muka air minimum ditentukan oleh tinggi petak sawah, genangan, bak pemberi.
2.        Tampang Melintang Saluran
Dimensi saluran baik saluran primer maupun saluran sekunder berdasarkan kebutuhan air maksimum yang diperlukan menurut luas daerah yang diairi.
Untuk saluran primer berdasarkan seluruh daerah irigasi yang dilayani dan saluran sekunder berdasarkan atas petak tersier yang diairi dengan memperhatikan banyaknya air yang hilang karena rembesan, bocoran, dan sebagainya tergantung pada bentuk dan saluran (tampang dan panjang).
Pada perentangan jaringan irigasi banyaknya air yang hilang di saluran diambil sebagai berikut: Untuk saluran terpanjang diambil 0,675,untuk saluran terpendek 0,885, diantara keduanya diadakan interpolasi linier.

Tabel 1.  Penentuan Dimensi Saluran Berdasarkan Klasifikasi Debit
Q = Debit (m3/det)
B/h
Kemiringan Talud
0,00 – 0,30
0,30 – 0,50
0,50 – 1,50
1,50 – 3,00
3,00 – 4,50
4,50 – 6,00
6,00 – 7,50
7,50 – 9,00
9,00 – 11,00
11,00 – 15,00
15,00 – 25,00
25,00 – 40,00
40,00 – 80,00
1,00
1,50
2,00
2,50
3,00
3,50
4,00
4,50
5,00
6,0
8,0
10,0
12,0
1 : 1
1 : 1
1 : 1
1 : 1,5
1 : 1,5
1 : 1,5
1 : 1,5
1 : 1,5
1 : 1,5
1 : 1,5
1 : 2,0
1 : 2,0
1 : 2,0


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar